Iman, Ekaristi, dan Kenangan Akan Daku

Editor: iKatolik.net author photo

Iman, Ekaristi, dan Kenangan Akan Daku
Bernardus T. Beding

ikatolik.net
- Setiap tahun, Umat Katolik memperingati Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari Raya ini sebagai peringatan Perjamuan Malam terakhir. Seperti kata Yesus, “Buatlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk.22:19, 1 Kor. 23-26). 

Yesus menetapkan perjamuan malam terakhir sebagai perjanjian antara Tuhan dan Manusia yang dimeteraikan oleh misteri wafat dan kebangkitan-Nya. 

Pada perjamuan malam terakhir, Yesus Kristus melembagakan Ekaristi sebagai peringatan akan wafat dan kebangkitan-Nya dan menyerahkan kepada Gereja untuk merayakannya. 

Perjamua malam terakhir dilihat sebagai ekaristi pertama yang dirayakan Yesus bersama para rasul-Nya. 

Seperti Santu Paulus menulis apa yang saya terima dari Tuhan kuteruskan kepadamu, yaitu Tuhan Yesus pada waktu Dia diserahkan, mengambil roti, lalu memecah-mecahkannya seraya berkata, “Ambillah ini dan makanlah sebab inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu, buatlah ini sebagai kenangan akan Daku”. 

Demikian juga Dia mengambil cawan, sesudah makan lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan adakn Daku! Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum caran ini, kamu memberitakan Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor. 11: 23 – 26). 

Kisah Perjamuan Terakhir dalam Injil

Penginjil Markus mencatat perjamuan malam terakhir sebagai berikut. Ketika Yesus dan para murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku”. 

Sesudah itu, Dia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan mereka semua minum dari cawan itu. Dia berkata kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang (Mrk. 14:22 – 24). 

Sementara cerita Mateus tentang perjamuan malam terakhir lebih dekat dengan cerita Markus. Menurut para pakar Kitab Suci, kemungkinan besar Mateus mengintip cerita ini dari Markus. 

Penginjil Lukas menulis ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan para rasul-Nya. Lalu Dia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini sebagai peringatan akan Daku”. 

Demikian juga dibuat-Nya dengan caan sesudah makan, Dia berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk. 22:14 – 23). 

Santu Yohanes mengisahkan perjamuan malam terakhir dengan versi yangberbeda. Yesus makan bersama para rasul-Nya, setelah itu Dia membasuh kaki mereka. Yesus menunjukkan teladan. Jika aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun harus saling membasuh kaki (Yoh. 13:14). 

Hubungan Gereja dan Ekaristi

Adagium klasik mengatakan, “Gereja menciptakan ekaristi dan ekaristi menciptakan Gereja”. Hubungan antara gereja dan ekaristi begitu erat. 

Ekaristi adalah pusat perayaan Gereja. Dengan merayakan ekaristi, Kristus bersatu dengan Gereja-Nya. Kristus hadir dan mencintai umat-Nya. Dia hadir sebagai sumber kehidupan dan kekuatan kita. 

Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan. Barang siapa datang kepada-Ku, ia tak akan lapar lagi dan barang siapa percaya kepada-Ku ia tak akan haus lagi” (Yoh. 6:35). 

Misteri ekaristi mengandung tiga aspek, yaitu korban (sacrifice), kehadiran (presence), dan makanan (meal). Ekaristi merupakan suatu perayaan korban yang benar seperti dibuat Kristus pada perjamuan malam terakhir. 

“Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang” (mrk. 14:24). Ekaristi sebagai peringatan akan korban Yesus di atas kayu salib. Dia menyerahkan diri sebagai korban dari penyilihan dosa. 

Ekaristi sebagai tanda kehadiran Kristus. Dengan merayakan ekaristi, Kristus hadir dalam umat yang berdoa. “Di mana dua tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ aku akan hadir di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). 

Konsili Valikan II mengatakan Kristus hadir dalam  liturgi kalau Gereja mendaraskan dan menyanyikan mazmur-mazmur. Kristus sungguh-sungguh hadir dalam umat yangberkumpul dan berdoa dalam nama-Nya (SC 7). 

Perayaan ekaristi dipimpin oleh seorang imam

Kristus hadir dalam pribadi imam yang memimpin perayaan ekaristi. Imam yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah. Supaya dia membawa persembahan dan korban karena dosa (Ibr. 5:1). 

Dengan bertindak dan berbicara atas nama umat, imam mengundang umat untuk berdoa dan mengungkapkan doa semua orang beriman di hadapan-Nya. 

Sama seperti Kristus menerima doa kaum beriman ke dalam doa-Nya kepada Bapa, demikian pula seorang imam membawa korban persembahan ke altar demi kepentingan seluruh umat Allah. 

Konsili Vatikan II menulis bahwa sebagai pelayan sakramen, terutama dalam perayaan ekaristi, para iman secara khusus mengemban pribadi Kristus, yang telah menyerahkan diri sebagai korban demi pengudusan manusia (SC 7). 

Kristus hadir dalam perayaan ekaristi lewat pribadi pelayan, karena Dia yang mengorbankan diri di atas kayu salib. 

Sekarang, Dia membawakan persembahan dari pelayanan imam. Dalam merayakan ekaristi, seorang imam menghadirkan kristus lewat pribadinya. 

Hadir dalam Sabda Kitab Suci

Dalam perayaan ekaristi, Kristus juga hadir dalam Sabda Kitab Suci. Konsili Vatikan II mengatakan bahwa sama seperti Tubuh Tuhan sendiri. 

Kitab-kitab Suci selalu Gereja hormati karena terutama di dalam Liturgi Kudus Gereja tak henti-hentinya menerima dan menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan, baik dari mimbar Sabda Allah maupun dari meja Tubuh Kristus (DV 21). 

Kristus sebagai pusat perayaan ekaristi. Tidak ada perayaan ekaristi tanpa kehadiran Kristus. Dalam persembahan roti dan anggur Kristus hadir setelah imam mengkonsekrasikannya sebagai tubuh dan darah Kristus lewat Doa Syukur Agung. 

Kristus hadir secara keseluruhannya sebagai Allah dan manusia. Maka, kehadiran Kristus di dalam persembahan roti dan anggur sungguh sakramental. 

Ekaristi sebagai Perjamuan Bersama

Pada malam perjamuan terakhir sesudah Yesus memberkati roti dan memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada para murid-Nya seraya berkata, “Ambillah dan makanlah sebab inilah tubuh-Ku yang dikorbankan bagimu”. 

Dengan menyambut tubuh Kristus, kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus. 

Kita merayakan Hari raya Tubuh dan Darah Kristus seturut wasiat Yesus pada perjamuan malam terakhir. “Buatlah ini sebagai kenangan akan daku” (Luk. 22:19; 1 Kor. 11:23-26). 

Wasiat ini diteruskan oleh Gereja sejak zaman para Rasul hingga saat ini. Setiap kali kita merayakan ekaristi, Kristus hadir dalam gereja. 

Kristus sebagai kepala atas Gereja. Dia mencintai Gereja sebagai suatu persekutuan umat yang sedang berziarah menuju rumah Bapa. 

Ekaristi sebagai pusat kehidupan Gereja. Yesus mengabadikan korban salib untuk selamanya dan mempercayakan kepada Gereja sebagai mempelai-Nya terkasih kenangan wafat dan kebangkitan-Nya, sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, dan perjamuan Paskah. 

Dalam perjamuan itu, Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang (SC 47). 

“Buatlah ini sebagai kenangan akan daku.” Harapan ini merupakan wasiat Yesus kepada para rasul yang diwariskan kepada Gereja. 

Tobat dan Rekonsiliasi yang Benar

Umat Katolik sejagat merayakan milenium ini dengan sikap tobat dan rekonsiliasi yang benar. Kita harus membina sikap rekonsiliasi dan tobat dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Tuhan. 

Kita pun masih tetap merayakan ekaristi sebagai pusat kehidupan Gereja entah kapan dan di mana saja kita berada. Gereja tidak henti-hentinya mengundang kita untuk terus menerus ikut ambil bagian di dalam perayaan ekaristi. 

Kita sebagai persekutuan umat beriman harus tetap memperhatikan wasiat Yesus: “buatlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Namun, realitas sosial sedang berubah dan bergeser. Dewasa ini sekularisme sedang menggenjot dunia kita. 

Sekularisme adalah suatu bentuk pandangan hidup yang didasarkan pada premis bahwa agama atau pertimbangan-pertimbangan religius ditiadakan atau diabaikan secara sengaja. 

Yang sakral disangkal dan diganti dengan yang profan. Orang mau secara bebas mengaktualisasikan diri dan kemampuannya. 

Gereja pun tak luput digerogoti sekularisme. Di banyak tempat di belahan bumi ini ada sebagian besar  umat Katolik pun sudah ditulari penyakit sekularisme. 

Sebagai contoh, pada hari Minggu yang adalah hari Tuhan, mereka lebih suka menghabiskan waktu  libur itu dengan senang-senang daripada ke gereja. Yang sakral diganti dengan yang duniawi. 

Pertanyaan sekarang, apakah wasiat Yesus masih tetap relevan bagi kita zaman ini? Sebaiknya kita refleksikan diri sebelum melempar batu pertama kepada orang lain. 

Jika maksud dan perbuatan itu berasal dari manusia, maka tentu ia akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, maka manusia tidak mampu melenyapkannya (KisRas 5:39). 

Dengan demikian wasiat Yesus, “Buatlah ini sebagai kenangan akan Daku” tidak akan lenyap ditelanprahara zaman. Semoga hari Raya Tubuh dan Darah Kristus menjiwai seluruh hidup dan karya dalam upaya mengkomunikasikan Kabar Gembira kepada segala bangsa.***

Penulis: Bernardus T. Beding | Umat Paroki Kristus Raja Mbaumuku, Keuskupan Ruteng



Share:
Komentar

Berita Terkini