Salut! Saat Ingat Orang Tua, BJ Habibie Mendoakan Mereka di Gereja

Editor: iKatolik.net author photo

Ingat Orang Tua, BJ Habibie Mendoakan Mereka di Gereja

ikatolik.net
- Berbicara tentang BJ Habibie, maka kita akan menemukan begitu banyak keistimewaan baik dari kehidupan pribadi maupun kisah hidupnya sebagai seorang putra terbaik Bangsa Indonesia.

Selain karena pernah menjabat sebagai presiden ketiga RI menggantikan soeharto, BJ Habibie dalam buku berjudul The true life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan karya A. Makmur Makka disebutkan bahwa ia adalah manusia pintar, genius dan mungkin dari 130 juta penduduk hanya akan ada satu orang seperti dirinya.

Kecerdasannya inilah yang membuat Soeharto pada masa jabatannya mengutus Ibnu Sutowo, Direktur Pertamina menjemput Habibie pulang ke Indonesia untuk menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. 

Salah satu gebrakan terbesar Habibie selama menjabat sebagai menteri adalah membuat Pesawat N250 Gatot Kaca pada 1995.

Bukan hanya soal teknologi, biografi BJ Habibie juga menjadi panduan semua pasangan yakni kisah cintanya dengan Hasri Ainun Habibie. 

Kisah keduanya sangat menginspirasi banyak orang terutama ketika berbicara tentang kesetiaan terhadap pasangan hingga maut memisahkan.

Kepergian BJ Habibie untuk selamanya beberapa waktu lalu membuat seluruh rakyat Indonesia menangis dan merasa sangat kehilangan.ditangisi oleh seluruh rakyat Indonesia. 

Tidak peduli suku, agama, daerah, ataupun ras mereka, semua ikut berduka atas wafatnya pria yang berjuluk Mr. Crack itu.

Ada satu kisah menarik dari BJ Habibie muda yang mungkin sudah banyak diketahui oleh orang-orang. Cerita di mana saat dia menempuh pendidikan di Jerman, dia harus salat di gereja. 

Dalam salah satu kisahnya ia menyebutkan bahwa di tempatnya belajar tidak ada masjid sama sekali. 

Wilayah tersebut dihuni oleh masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Habibie juga menyebutkan bahkan di situ hanya ada satu Gereja Protestan.

Kala itu Habibie yang akrab disapa Rudy mengungkapkan dirinya berada dalam kondisi kehabisan uang dan merindukan orangtuanya. 

Belum lagi, saat itu sudah mendekati Natal yang berarti memasuki musim dingin. Habibie menceritakan bahwa ketika dia merindukan orangtuanya, dia tak segan untuk mendoakan keduanya meski harus masuk ke dalam gereja.

Di depan gereja saya bilang, "Tuhan gedung ini dibuat oleh manusia yang cinta pada-Mu. Saya juga cinta pada-Mu Tuhan dan saya yakin hanya ada satu Tuhan yang Maha Esa, Perkenankanlah saya masuk ke ruangan ini dan berdoa pada-Mu, untuk orangtua saya dan kawan-kawan saya. Perkenankanlah" kata pria yang saat itu masih berusia sekitar 17 tahun.

Habibie menceritakan dia tak masalah dengan ornamen-ornamen gereja yang ada. Ia duduk di bangku belakang dan melakukan salat di sana dalam keadaan perut keroncong karena lapar. 

Kisah tersebut bukanlah hal baru baginya. Habibie sendiri dikenal dekat dengan tokoh Katolik, Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau dikenal dengan nama Romo Mangun.

Dalam buku berjudul Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwujaya karya Forum Mangunwijaya empat, Romo Mangun juga diketahui pernah memberikan sarannya pada Habibie yang saat itu menjadi presiden, terkait masalah Timor Timur di 1998.



Share:
Komentar

Berita Terkini