Sempat Diculik Kelompok Bersenjata, Kardinal Tumi Meninggal Dunia

Editor: iKatolik.net author photo

Sempat Diculik Kelompok Bersenjata, Kardinal Tumi Meninggal Dunia

ikatolik.net
- Kardinal Christian Wiyghan Tumi yang dikenal sebagai orang Kamerun pertama yang membela perdamaian dan cukup berdedikasi dalam krisis Anglophone dikabarkan meninggal dunia.

Kepergian Kardinal berusia 90 tahun tersebut diumumkan secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agung Douala, Mgr. Samuel Kleda pada Sabtu (3/4/2021).

Selain karena karya pelayanannya terkait upaya perdamaian di Kamerun, Kardinal Tumi menjadi sorotan dunia pada November tahun lalu ketika dia diculik oleh kelompok bersenjata di wilayah Barat Laut Kamerun.

Video interogasi Kardinal Tumi menjadi perbincangan dunia selama dirinya ditawan. Dalam video tersebut, salah satu penculik menekannya agar menyerukan pesan separatis kepada publik.

Meski ditekan sedemikian rupa karena seruannya tentang permintaan agar kelompok bersenjata meletakan senjata dan berdamai, Kardinal hanya menjawab bahwa dirinya tidak akan melakukan apapun dan hanya akan memberitakan apa yang benar dengan keyakinan pastoral dan alkitab.

“Tidak ada yang berhak memberitahu saya untuk berkhotbah yang sebaliknya karena saya dipanggil oleh Tuhan,” kata Kardinal Tumi menjawab para penculik.

Di bagian lain dalam video, kardinal mengatakan kepada para penculiknya: “Ketika saya berbicara, saya berbicara seperti seorang pendeta dan saya tidak pernah berhenti melakukannya. Jika saya berhenti melakukan itu, maka saya tidak akan setia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Terjadi di Tengah Konflik

Penculikan Tumi terjadi di tengah konflik antara separatis dan pasukan pemerintah di wilayah berbahasa Inggris di Wilayah Barat Laut Kamerun dan Wilayah Barat Daya.

Krisis di Kamerun berakar dari konflik antara wilayah berbahasa Inggris dan Perancis di Kamerun.

Daerah itu adalah koloni Jerman pada akhir abad ke-19, tetapi wilayah itu dibagi menjadi mandat Inggris dan Prancis setelah kekalahan Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia I. Mandat tersebut disatukan di Kamerun yang merdeka pada tahun 1961.

Ketegangan meningkat pada tahun 2016 setelah guru dan hakim Francophone dikirim untuk bekerja di wilayah Anglophone yang secara historis terpinggirkan, dan perselisihan tersebut kemudian dikenal sebagai krisis Anglophone.

Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin mengunjungi Kamerun pada bulan Februari dan mengatakan bahwa Takhta Suci sedang bekerja untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di dua wilayah Anglophone.

“Saya di sini untuk menunjukkan perhatian dan solidaritas Bapa Suci Paus Fransiskus kepada rakyat Kamerun, terutama di saat-saat sulit ini,” kata Parolin.

Biografi Singkat

Kardinal Tumi lahir di tempat yang sekarang disebut Kamerun Barat Laut pada tanggal 15 Oktober 1930. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1966 di keuskupan Buéa.

Dia belajar di Nigeria dan Inggris sebelum melanjutkan untuk mendapatkan Lisensiat dalam Teologi Suci dari sebuah institut Katolik di Lyon, Prancis dan gelar lebih lanjut dalam bidang filsafat dari Universitas Fribourg, Swiss.

Kardinal Tumi melayani sebagai uskup di wilayah Francophone negara itu dari 1979. Dia adalah presiden konferensi uskup Kamerun dari 1985 hingga 1991 dan presiden Simposium Konferensi Episkopal Afrika dan Madagaskar (SECAM) dari 1990 hingga 1994.

Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya menjadi kardinal pada 1988 dan tiga tahun kemudian mengangkatnya sebagai uskup agung Douala, jabatan yang dia pegang hingga pensiun pada 2009.

Kardinal Tumi menerima Hadiah Nelson Mandela pada Juli 2019 atas upayanya dalam mempromosikan perdamaian dan hak asasi manusia.

Tumi menerbitkan sebuah memoar pada akhir tahun 2020 berjudul, "Malam saya di penangkaran," di mana ia menulis: "Yang saya inginkan adalah senjata untuk diam dan perdamaian kembali ke negara".

Share:
Komentar

Berita Terkini