-->

Dua Pahlawan Nasional yang Pindah Agama dari Islam ke Katolik

Editor: iKatolik.net author photo




ikatolik.net
- Dari sekian banyak pahlawan nasional Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan, ada setidaknya dua orang yang pernah pindah agama dari Islam ke Katolik.

Mereka berdua adalah Oerip Soemohardjo dan Slamet Riyadi. Berikut cerita selengkapnya.

1. Oerip Soemohardjo

Oerip Soemohardjo lahir di Purworejo pada 22 Februari 1893. Nama kecilnya adalah Muhammad Sidik. Kelak ia menjadi peletak dasar organisasi ketentaraan modern di Republik ini dan diangkat menjadi pahlawan nasional. 

Menurut Amrin Imran dalam buku Letjen Oerip Soemohardjo (1993:15), kakek Oerip yang bernama Mbah Glondang Rayi berharap cucunya menjadi orang alim dan suatu saat mampu pergi ziarah ke Makkah. Namun harapan kakeknya itu tak pernah terlaksana.

“Ia (Oerip) tak pernah sampai ke Mekah dan memakai pakaian haji. Malahan kemudian dia menjadi seorang penganut agama Kristen [Katolik]. Untunglah pada waktu itu Mbah Glondong tidak ada lagi, sudah lama meninggal dunia,” tulis Amrin Imran.

Rohmah Soemohardjo, istri Oerip, dalam Oerip Soemohardjo: Letnan Jenderal TNI 22 Februari 1893-17 Nopember 1948 menyebutkan bahwa ketika berdinas di Kalimantan, Oerip telah berkawan dengan Monsinyur Valenberg, seorang tokoh Katolik.

Belasan tahun setelah Oerip wafat, tepatnya pada Natal 1964, Kardinal Monsinyur Darmojuwono pulang dari Vatikan dan membawa sebuah piala dari Paus Paulus VI bertuliskan: 

In memori ducis militum Benedicti Oerip Soemohardjo pro Aede sacra. Piala itu kemudian disimpan di gereja kecil di kompleks Akademi Militer Magelang.

2. Slamet Riyadi

Selain Oerip, pahlawan nasional lain yang berpindah agama menjadi Katolik adalah Slamet Riyadi. Sosok ini dikenal sebagai salah satu komandan tempur TNI yang andal. 

Dia lahir pada 26 Mei 1926 dengan nama Soekamto, dan mula-mula mengganti namanya menjadi Slamet. Karena nama Slamet begitu pasaran di sekolahnya, maka dia menambah lagi kata Riyadi: jadilah Slamet Riyadi.

Setelah proklamasi kemerdekaan, dia bergerilya sebagai komandan batalion lalu komandan brigade. Dalam Majalah Hidup (17/12/2018) disebutkan bahwa Slamet Rijadi tertarik pada Katolik setelah mendengar alunan lagu di sebuah gereja ketika Indonesia masih berperang dengan Belanda.

“Kalau selamat dan menang mari kita ucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan masuk Katolik dan baptis,” ujar Slamet Rijadi kepada ajudannya seperti dicatat dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia: Muskens, M. P. M. 

Pengintergrasian di Alam Indonesia (1972:346). Hal tersebut diucapkan Slamet Rijadi pada 1948, tahun wafatnya Oerip Soemohardjo.

Pada akhir 1949, tiga hari sebelum pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, Slamet Riyadi dan ajudannya yang bernama Djaka Moeljana melaksanakan niatnya. Mereka pergi ke sebuah gereja di Solo untuk diberkati.

“Ia dibaptis sebagai orang Katolik pada 24 Desember 1949, waktu usianya masih 22 tahun. Setelah pembaptisan itu, Slamet Rijadi dapat nama lagi—yang merupakan nama baptisnya—Ignatius. Kini nama lengkapnya Ignatius Slamet Rijadi," tulis Majalah Hidup (17/12/2018).

Pada November 1950, Slamet Riyadi gugur tertembak dalam operasi penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon. 

Seperti Oerip Soemohardjo, setelah kematiannya Slamet Rijadi juga naik pangkat dan jadi pahlawan nasional. Nama keduanya kemudian kerap dijadikan nama-nama tempat di lingkungan TNI.

Share:
Komentar

Berita Terkini