Berselisih dengan Anggota DPRD, Christina Diperlakukan Tidak Adil Sebagai Perawat

Editor: iKatolik.net author photo

Berselisih dengan Anggota DPRD, Christina Diperlakukan Tidak Adil Sebagai Perawat
Foto: Ist.

ikatolik.net
- Selama berselisih dengan Sales Medi, anggota DPRD Manggarai Timur fraksi PDI-P, Christina Natalia Carvallo mendapat perlakuan yang tidak adil sebagai perawat.

Dalam surat hak jawab atas pemberitaan beberapa media yang beredar, perawat yang bertugas di Puskesmas Borong itu menulis dalam 15 halaman tentang jalan panjangnya mencari keadilan.

Berikut rangkuman kesaksian perawat Christina atas perlakuan lembaga tempatnya bekerja, pemberitaan media hingga keluhannya kepada DPRD Matim yang tidak membuahkan hasil apa-apa.

Diabaikan oleh Dinas Kesehatan Manggarai Timur

Dinkes Manggarai Timur tidak memenuhi janjinya kepada perawat Christina agar pernyataan klarifikasi atas peristiwa 6 November 2020 itu dipublikasikan untuk menghindari kesalahpahaman di mata publik.

Kejadian ini terjadi dua hari setelah perselisihan antara Sales Medi dengan perawat Christina. Pada waktu itu, ia sudah menceritakan semuanya kepada Kepala Puskemas Borong dan Kabid SDK Dinkes Manggarai Timur.

Lembaga tempatnya bekerja tersebut semula hendak membuat berita klarifikasi lewat media yang dikelola oleh Humas dan Kominfo Matim. 

Namun, alih-alih mengeluarkan berita klarifikasi, Dinkes Matim malah memanggil perawat Christina pada tanggal 30 November 2020 untuk memberi tahu soal keputusan mutasi ke Kisol atau Wae Lengga sesuai keinginan Sales Medi.

Diberitakan Secara Kurang Berimbang 

Ancaman Sales Medi yang mengingatkan perawat Christina pada hari kejadian untuk memberitakannya di media benar-benar terjadi.

Ketika hak jawab perawat Christina ramai diperbincangkan publik, ada sejumlah pihak menilai beritanya tidak berimbang karena hanya mengambil pernyataan salah satu pihak saja.

Sebenarnya, jauh sebelum hak jawab itu ditulis, sejumlah media sudah memberitakan kejadian ini secara kurang berimbang juga karena hanya mengambil pernyataan Sales Medi saja.

Bahkan salah satu media memberitakan bahwa perawat Christina dinilai menghalangi kerja jurnalis dalam mencari informasi hanya karena pihak keluarga menanyakan identitas para pewarta tersebut.

Apalagi pada saat mereka mendatangi kediaman perawat Christina untuk meminta klarifikasi, ia sedang tidur karena telah menjalankan dinas malam.

Selain itu, pada 8 November 2020 perawat Christina sudah diingatkan oleh Kabid SDK Dinkes Manggarai Timur untuk tidak memberikan pernyataan apapun kepada media.

Sehingga vonis menghalangi kerja wartawan dalam mencari informasi dinilai sangat berlebihan dan narasumber sejatinya juga memiliki hak untuk tidak memberikan pernyataan apapun kepada media.

DPRD Manggarai Timur Tutup Mata

Pada tanggal 12 November 2020, sehari setelah Sales Medi melaporkan Perawat Christina ke polisi, pihak DPRD Manggarai Timur meminta mereka untuk bertemu.

Di hadapan Wakil Ketua I dan II beserta Ketua Komisi C dan jajarannya, Ketua DPRD Matim mengapresiasi kinerja petugas medis dan menegaskan bahwa masalah yang sedang terjadi bukanlah masalah lembaga tetapi personal.

Ia pun berharap agar petugas medis tidak takut dan terus bekerja demi menyelamatkan pasien yang membutuhkan pertolongan. Serta meminta perawat Christina tetap masuk kerja seperti biasa.

Namun, dukungan tersebut tidak membuahkan hasil apa-apa. Mereka juga tidak berdaya ketika Sales Medi mengamuk di kantor DPRD pada 27 November 2020 dengan membanting semua buku RKA beserta meja dan kursi di ruang sidang.

Sales Medi marah karena Dinkes Manggarai Timur belum juga mengambil keputusan untuk memutasi perawat Christina sesuai keinginannya.

Bukannya mendukung, Wakil Ketua I DPRD Matim, Bernadus Nuel malah menelpon perawat Christina untuk mengalah terhadap Sales Medi dan menerima keputusan Mutasi dari Dinkes Matim.

Perawat Christina Terpukul

Menyadari perjuangannya mencari keadilan menemukan jalan buntu, perawat Christina merasa terpukul dan kecewa dengan pihak-pihak yang beralih darinya.

Keputusan memutasi perawat Christina ke Kisol atau Wae Lengga sepertinya sangat sulit dicabut karena perawat pengganti posisinya sudah mulai bekerja di Puskesmas Borong.

Ketidakadilan inilah yang membuat perawat Christina memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan Sales Medi ke polisi pada 19 November 2020 dan menuliskan 15 halaman surat hak jawabnya atas pemberitaan media yang beredar.

Dukungan Masyarakat Membanjir

Meski sedang dalam posisi yang sangat sulit, perawat Christina tidak berjalan sendirian. Pada hari ia bersaksi atas ketidakadilan tersebut, masyarakat beramai-ramai memberi dukungan.

Ada pihak yang mengapresiasi keberaniannya, ada pula yang meminta agar DPP PDI-P mengambil tindakan tegas terhadap Sales Medi karena perlakuannya yang tidak pantas kepada petugas medis.

Masyarakat juga mengutuk keras tindakan semena-mena Sales Medi yang dinilai memanfaatkan kekuasaanya secara berlebihan dalam peristiwa tersebut.

Tanggapan PPNI NTT

Kekerasan verbal terhadap perawat Christina juga mendapat perhatian cukup serius oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) NTT.

Ketua DPW PPNI NTT, Aemilianus Mau melansir voxntt.com mengatakan bahwa pihaknya sangat menyayangkan perlakuan anggota DPRD tersebut.

PPNI NTT mengaku siap memberi dukungan terhadap perawat Christina termasuk berupaya agar keputusan mutasi yang dikeluarkan Dinkes Matim bisa dibatalkan.

Sejauh ini mereka sudah menyurati Dinkes NTT dan tembusannya untuk Dinkes Matim agar dapat menimbang kembali keputusan mutasi itu.

Keputusan Dinkes Matim yang lari dari tanggung jawabnya untuk melindungi staf dari ketidakadilan juga direspon cukup serius oleh PPNI NTT.

“Kami menyatakan keperihatinan mendalam terhadap pejabat seperti ini. Tidak memberikan perlindungan hukum dan kepastian kepada stafnya, malah menambah masalah dan penderitaan batin baginya yang sudah menyelamatkan pasien sesuai kode etik profesi,” ujar Aemilianus kepada Voxntt.com.

Sementara itu, dorongan agar masalah ini dapat diselesaikan secara damai juga gencar dilakukan sejumlah pihak. Namun, mereka tetap berharap keadilan berpihak pada perawat Christina agar keputusan dipintahtugaskan ke tempat lain dibatalkan.*

Share:
Komentar

Berita Terkini