Belajar Sabar Hadapi Penderitaan dari Andrea Bocelli

Editor: iKatolik.net author photo

Belajar Sabar Hadapi Penderitaan dari Andrea Bocelli
Foto: Daily Nonpareil

ikatolik.net
- Setiap orang pernah mengalami masa “gelap gulita” dalam hidupnya. Entah karena kehilangan orang yang dicintai, masalah dalam kesehatan, gagalnya pencapaian hidup yang telah diusahakan dengan sepenuh jiwa, dan sebagainya. 

Pandemi COVID-19 menjadi cerita menakutkan bagi penduduk bumi sejak munculnya pada akhir 2019 lalu di Wuhan, China. 

Umat manusia berkabung lantaran pandemi ini terus memakan korban dari hari ke hari. Sebagai manusia kita tentu mengalami rasa duka, sedih dan takut. Tetapi selalu ada hal positif di balik krisis. 

Teladan Yesus Kristus

Kita melihat kesabaran Tuhan Yesus menghadapi penderitaan demi keselamatan umat manusia hendaknya menjadi teladan bagi umat Kristen menghadapi berbagai persoalan hidup. 

Tuhan Yesus yang tidak melakukan perlawanan terhadap pengkhianatan, kekerasan dan penyaliban dirinya hendaknya menjadi cermin bahwa kesabaran akan melahirkan keselamatan dan suka cita. 

Setiap orang berusaha untuk saling menjaga, membantu dan bergerak bersama-sama dengan melupakan perbedaan agama, suku atau ras.

Timbulnya rasa solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama dalam menghadapi pandemi ini adalah masa bangkitnya rasa kemanusiaan, persaudaraan dan persatuan universal. 

Karena itu kita pantas berharap dan terus merawat harapan itu hingga kita bisa menjadi pemenang atas krisis kehidupan.

Kita juga melihat keteladanan luar biasa yang ditunjukkan oleh mereka-mereka yang terlibat langsung di garis depan: para dokter, perawat, pemerintah, relawan, dan komunitas-komunitas kemanusiaan lainnya. 

Dari mereka kita belajar soal pengorbanan dan keberanian untuk tetap melayani meski banyak hal yang harus dikorbankan.

Cerita keteladanan demikian tentu bukan baru muncul di saat ini. Sejarah berkisah, sejak ditangkap tentera Yahudi di Taman Getsemane, diadili di hadapan hakim Pontius Pilatus, disiksa, didera, hingga disalibkan di bukit Golgata, Tuhan Yesus tidak sedikit pun melakukan perlawanan. 

Bahkan di saat-saat akhir menanggung derita di kayu salib, Yesus masih memaafkan dua penjahat yang disalibkan di sampingnya. Hal menunjukkan betapa mulianya Tuhan Yesus yang mengorbankan nyawanya demi menebus dosa manusia. 

Dalam kehidupan masyarakat belakangan ini, kesabaran menanggung penderitaan dan jiwa pengorbanan semakin memudar. Hal tersebut terjadi akibat sikap manusia yang semakin mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. 

Bahkan sekarang semakin banyak orang yang menimpakan kesalahan diri sendiri kepada orang lain, mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri. Jauh dari teladan yang diberikan Yesus, mengorbankan diri demi keselamatan orang lain. 

Umat Kristen juga perlu menunjukkan sikap kesabaran, tidak melakukan perlawanan terhadap berbagai upaya yang membuat kehidupan Kristen terabaikan dan kurang mendapatkan rasa keadilan. Semua masalah harus kita hadapi dengan sabar dengan harapan umat Kristen di Indonesia, semakin mampu membangun jiwa pengorbanan dan kepedulian terhadap orang lain.

Dalam masa pandemi ini, kita diharuskan sadar untuk melakukan karantina demi pencegahan penyebaran virus yang lebih parah dan berdampak berkepanjangan ke depannya. 

Di saat ini pun, seorang pernah berkata bahwa penghiburan akan datang di saat-saat susah, seorang yang lain pula pernah berkata “Wah dia layaknya Tuhan yang sedang bernyanyi”.

Siapakah yang dimaksud? Salah satu penyanyi opera terbaik dunia, Andrea Bocelli, yang mengalami kebutaan sejak kecil karena penyakit glukoma.

Andrea Bocelli disejajarkan dengan tiga dewa musik opera dunia, The Three Tenors, yaitu Luciano Pavarotti, Jose Carreras dan Placido Dominggo. 

Ia dijuluki The Fourth Tenor, Tenor terbaik keempat. Suaranya yang jernih, mengalunkan lagu-lagu opera, menyentuh jiwa pendengarnya hingga Celine Dion, salah satu penyanyi yang pernah berduet dengannya menjulukinya “suara emas Tuhan”.

Lagu-lagunya hingga sekarang masih bisa dinikmati diantaranya “The Prayer”, “Time to Say Goodbye”, dan “Canto della Terra”, dan yang lainnya.

Profil Andrea Bocelli

Dialah Andrea Bocelli,  merupakan penyanyi pop tenor tunanetra berkebangsaan Italia. Bocelli mempunyai suara khas Italia yang keras nan lembut dan sangat digemari banyak orang dari segala penjuru dunia dan juga tampil di panggung-panggung opera. 

Bocelli kecil tinggal di perkebunan zaitun dan anggur milik orangtuanya yang merupakan keluarga penganut Katolik yang taat.Sejak anak-anak sudah menjadi pemain organ di gereja. 

Bocelli kecil yang sejak lahir menderita congenital glaucoma, pada umur 12 tahun mengalami kebutaan total akibat kecelakaan saat main sepak bola.

Tetapi kebutaan tidak menghalangi Bocelli untuk untuk meraih gelar doktor ilmu hukum dan bahkan sempat berpraktik sebagai pengacara. 

Karya-karya Andrea Bocelli

Pria berusia 62 tahun ini banyak berkarya dan memberi teladan bagi sesama di sekitarnya karena pengolahan talenta yang maksimal sepanjang perjalanan hidupnya.

Baru-baru ini, Andrea Bocelli bernyanyi di Katedral kosong untuk menghibur Umat yang dikarantina. Pertunjukan “Music for Hope”, yang disiarkan di YouTube dari Katedral Duomo, Milan, itu ditonton lebih dari 22 juta kali sejauh ini. 

Andrea melaksanakan “konser solo” pada Minggu Paskah dari Katedral Milan yang kosong.

Acara itu disiarkan langsung ke hadapan jutaan orang di seluruh dunia, yang sedang menjalani isolasi mandiri demi memutus penyebaran virus corona baru.

Bocelli, untuk acara itu, mendapatkan izin khusus dari pastor kepala Mgr Gianantonio Borgonovo dan Wali Kota Giuseppe Sala.

Dengan diiringi organis katedral, Bocelli menyanyikan empat lagu di dalam gedung Gothic yang megah itu. Ia mengakhiri konser tunggalnya dengan membawakan lagu Amazing Grace (John Newton) dari tangga katedral, dengan montase gambar yang menunjukkan jalan-jalan kosong di Paris, London, dan New York. 

Andrea berkata bahwa pada hari di mana kita merayakan hari kemenangan dalam keimanan kita, saya merasa terhormat dan dengan senang hati menjawab ‘Si’ atau ‘Iya’ atas undangan ini. 

Berkat musik, yang disiarkan secara langsung, menyatukan jutaan tangan yang tergenggam di mana-mana di dunia, kita akan memeluk denyut hati Bumi yang terluka ini.

Hadiah Terindah

Dia pernah kehilangan penglihatannya pada usia 12 tahun dan menulis dalam sebuah pesan pendek yang diputar sebelum konser, yang lebih senang ia sebut “renungan atau doa bersama”.

Mengingat bahwa wilayah Lombardy yang beribu kota di Milan, menjadi yang paling terpukul dalam krisis virus corona di Italia, dengan catatan lebih dari 9.000 kematian. 

Andrea Bocelli adalah hadiah sejati dari Tuhan. Ia melakukan hal yang indah yang perlu banyak orang lihat dan rasakan, khususnya di saat-saat krisis seperti ini. Terima kasih Bocelli, karena telah berbagi hadiah suara dan musikmu dengan kami.

Oleh: Leony Avellince Wimantha | Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR Surabaya

Share:
Komentar

Berita Terkini