Teladan Romo FX Eko Armada yang Harus Ditiru pada Masa Pandemi

Editor: iKatolik.net author photo

Teladan Romo FX Eko Armada yang Harus Ditiru pada Masa Pandemi
Foto: sesawi.net

ikatolik.net
- FX Eko Armada Riyanto lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur, pada 6 Juni 1965. Beliau menyelesaikan pendidikan SMAnya di Seminari St. Vincentius Garum, Blitar. 

Setelah itu, pada tahun 1989 beliau melanjutkan pendidikannya ke STFT Widya Sasana Malang untuk mendapatkan sarjana filsafat. Pada tahun 1999 beliau mendapatkan gelar Magister dan Doktor dari Universitas Gregoriana, Roma, Italia. 

Setelah berhasil menyelesaikan studinya, Romo Eko mengajar di berbagai Universitas yang berada di Malang dan Surabaya (Unika Widya Mandala, Universitas Airlangga, dan Universitas Muhammadiyah) khususnya dalam bidang Phenomenological Research Methodology

Karya-karya Romo Eko

Beliau juga dipercayakan untuk menjadi guru besar di STFT Widya Sasana Malang. Sebagai seorang guru besar tentunya Romo FX Eko Armada Riyanto memiliki banyak karya yang dihasilkannya, antara lain:

Pertama, makalah penelitian tentang DFT (Dialog Filsafat Teologi) disampaikan di Driyarkara, 26 Februari 2012

Kedua, pada tahun 2015 membuat artikel tentang Sejarah Indonesia, pergulatan masa silam untuk menjadi Gereja yang Berbelas Kasih dan Gembira

Ketiga, pada tahun 2016 Menulis tentang “Sembulan-sembulan Kepemimpinan Visioner Konteks Masyarakat Multikultural”

Kelima, pada tahun 2017 menulis tentang “Pendidikan di Era Digital” untuk Orasi Ilmiah wisuda sarjana di Unika Widya Karya, Malang

Keenam, pada tahun 2018 menjadi Leadership in Industrial Revolution 4.0

Masih banyak sekali karya-karya yang dihasilkan oleh beliau. FX Eko Armada Riyanto juga menggeluti bidang politik maupun filsafat, yang pada akhirnya beliau dinobatkan sebagai penggiat dialog interreligious dan ketua filsuf-filsuf katolik sejak 2006. 

Seorang Filsuf Kritis

FX Eko Armada Riyanto merupakan seorang filsuf yang memiliki pemikiran kritis dalam menanggapi suatu peristiwa. 

Contohnya pada kasus bom Bali, beliau menulis sebuah artikel yang berjudul “Genesis Terorisme” yang pada akhirnya artikel tersebut menjadi salah satu pionir mengenai terorisme yang merebak di Indonesia. 

Namun pada akhirnya UU antiterorisme tidak berlaku, lalu pada tahun 2004 beliau menulis kritikan tajam yang berjudul “Positivisme Hukum Mahkamah Konstitusi. Kritik atas Pembatalan UU Antiterorisme Bali.”

Dengan pemikirannya yang filosofis beliau ingin mengembangkan ilmu filsafat dalam bidang politik dengan prespektif fenomenologis. 

Prespektif tersebut memiliki konsep dari pengalaman keseharian masyarakat pinggiran yang menderita, mengalami kecemasan, dan ketidakadilan. Dalam konsep ini dikenal dengan sebutan phenomenological sketchy. 

Teladan Romo Eko

Ada beberapa teladan yang dapat kita tiru dari kebiasaan Romo FX Eko Armada Riyanto yang selalu kritis terhadap realitas masyarakat hari ini terutama selama masa pandemi.

Salah satunya adalah dengan memposisikan diri dengan baik dalam menyikapi berbagai macam informasi yang dapat menimbulkan kekacauan berpikir kita saat berhadapan dengan situasi serba sulit belakangan ini.

Metode yang dipakai oleh Romo Eko yaitu membiasakan diri dengan selalu bertanya secara kritis terhadap segala macam hal di sekitar kita terutama soal berita hoax yang banyak bermunculan di timeline medsos kita.

Berpikir Filsafat

Kebiasaan ini biasa disebut berpikir secara filsafat. Dengan berpikir filsafat seperti keteladanan dari beliau, kita dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Contoh cara berpikir filsafat dalam menyikapi berita hoax adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan dasar sebagai pengantar seperti: dari mana berita tersebut? Siapa yang mengirim berita tersebut?

Apakah benar isi yang ada dalam berita tersebut untuk mengetahui benar atau tidaknya harus dengan menulusuri isi berita tersebut, pantaskah berita tersebut disebarkan?

Dengan berpikir filsafat seperti demikian, maka situasi runyam selama masa pandemi sedikit demi sedikit bisa teratasi dan rantai ketakutan bisa dipotong sehingga masyarakat fokus mematuhi protokol kesehatan tanpa harus memikirkan hal lain yang merugikan dirinya sendiri.

Oleh: Margareta Nendy Triastita

Mahasiswi Fakultas Keperawatan UNAIR

Share:
Komentar

Berita Terkini