Kardinal Christian Tumi Diculik Kelompok Separatis Kamerun

Editor: iKatolik.net author photo

Kardinal Christian Tumi Diculik Kelompok Separatis Kamerun
Foto: Vatican News

ikatolik.net
- Sejumlah media di Kamerun melaporkan  bahwa kelompok bersenjata telah menculik Kardinal Christian Wiyghan Tumi (90) pada Kamis (5/11/2020) lalu.

Kardinal Tumi diculik tepat di wilayah Barat Laut Kamerun ketika terjadi gejolak bersenjata antara pasukan pemerintah dan kelompok separatis.

Beruntungnya, Kardinal Tumi hanya ditahan selama satu hari dan dibebaskan sehari setelahnya tepat pada hari Jumat (6/11/2020) kemarin.

Kronologi Kejadian

Sebelum diculik, Kardinal Tumi sedang didampingi oleh petinggi di wilayah itu dalam perjalan menuju kediaman masing-masing.

Namun, konvoi itu dihentikan oleh penghalang jalan yang dipasang tersangka pejuang separatis yang menculik Kardinal dan membawanya ke lokasi yang tidak diketahui.

Dalam wawancara dengan Vatican News, Uskup Agung Samuel Kleda dari Douala mengatakan bahwa dia memperkirakan Kardinal Tumi diculik sekitar pukul 18:00 waktu setempat.

Pada waktu itu kardina sedang dalam perjalanannya dari Bamenda ke Kumbo dan sempat berinteraksi dengan Uskup Agung satu jam sebelumnya.

Beberapa saat kemudian tepatnya pada Kamis malam, Uskup Agung Kleda menerima panggilan telepon dari Kardinal yang memberitahunya bahwa dia telah diinterogasi oleh para penculik. 

Upaya berikutnya untuk menghubungi Kardinal melalui telepon pada Jumat pagi sia-sia. Namun, Kardinal dibebaskan pada hari Jumat setelah menghabiskan malam di sarang para penculik.

Kardinal Tumi sendiri telah vokal menyerukan dialog dan perdamaian di tengah konflik selama empat tahun di wilayah Barat Laut dan Barat Daya negara itu.

Kedekatan Paus Francis

Paus Fransiskus telah mengungkapkan kedekatannya dengan Kamerun. Beberapa waktu lalu, dia berdoa agar wilayah yang tersiksa di Barat Laut dan Barat Daya negara itu dapat menemukan kedamaian.

Paus juga berdoa untuk keluarga para siswa muda yang dibunuh pada 24 Oktober oleh orang-orang bersenjata di sebuah sekolah swasta di Kumba. 

Dia mengungkapkan kesedihannya atas "tindakan kejam dan tidak masuk akal yang mencabik-cabik anak muda tak berdosa dari kehidupan saat mereka menghadiri pelajaran di sekolah."

Konflik Kamerun

Kelompok separatis telah terlibat dalam pertempuran berkelanjutan dengan pasukan pemerintah dalam upaya mereka untuk menciptakan negara merdeka yang mereka ingin disebut "Ambazonia".

Krisis dimulai pada 2016 ketika lembaga pendidikan dan peradilan di wilayah Barat Laut dan Barat Daya berbahasa Inggris di negara dua bahasa itu memprotes penunjukan penutur bahasa Prancis yang tidak dapat dibenarkan di wilayah mereka. 

Pada 2017, situasinya telah lepas kendali dan telah menjadi perang separatis penuh.

Konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan ribuan korban jiwa dan pengungsian yang meluas. Anak-anak sekolah di zona konflik baru kembali ke sekolah tahun ini setelah hampir empat tahun ditutup.

Bulan lalu, orang-orang bersenjata yang diduga terkait dengan pejuang separatis, menembaki siswa di Akademi Bilingual Internasional Ibu Francisca di Kumba, menyebabkan enam dari mereka tewas dalam serangan mematikan itu.*

Share:
Komentar

Berita Terkini