-->

Belajar Memaafkan dari Santo Paus Yohanes Paulus II

Editor: iKatolik.net author photo

Belajar Memaafkan dari Santo Paus Yohanes Paulus II

ikatolik.net - Pada 13 Mei 1981, Paus Yohanes Paulus II ditembak Mehmet Ali Agca di Lapangan Basilika St Petrus, Vatikan. 

Para penganut agama Katolik dan sekaligus dunia bereaksi keras; mengkritik penembakan terhadap pemimpin agama Katolik sekaligus tokoh perdamaian tersebut.

Banyak pendapat mendesak hukuman mati terhadap Mehmet, karena telah melanggar hak asasi manusia dan juga menghina simbol agama Katolik.

Tanggapan Paus di luar dugaan. Ia memaafkan Mehmet dan mengajak pemeluk agama Katolik untuk mendoakannya. 

“Mari kita berdoa bagi saudara saya (Mehmet), yang sudah saya maafkan setulus-tulusnya,” ajaknya dengan penuh ketulusan.

Bahkan, dua hari setelah Perayaan Natal pada 25 Desember 1983, Paus mengunjungi Mehmet di Penjara Italia, tempat ia ditahan. 

“Ketika berbicara dengannya, saya anggap dia adalah seorang saudara yang sudah saya maafkan,“ ujar Paus.

Mehmet bukan pertama kali melakukan percobaan pembunuhan. Ia juga didakwa membunuh jurnalis Turki pada 1979.

Di hadapan penembaknya itu, Paus menerjemahkan ajaran agama Katolik tentang sikap saling mengampuni dalam kasih.

Bagi Paus, kasih mengatasi segala sesuatu termasuk praktik kekerasan, ketidakadilan, dan kebencian. 

Keperkasaan kasih dalam sikap memaafkan ibarat tetesan-tetesan lembut air yang mampu melubangi batu karang yang keras di stalagmit sebuah gua.

Dalam dan melalui tindakannya. Paus mengatakan bahwa kekerasan tidak dapat dikalahkan dengan kekerasan. Ia menghormati proses hukum kepada Mehmet, tetapi berkepentingan memaafkannya sebagai manusia.

Kita Dipanggil untuk Memaafkan Orang Lain

Menurut Paus, kita selalu harus dipanggil untuk memaafkan orang lain; bahwa orang lain memiliki kelemahan manusiawi. 

Namun, di dalam relung diri orang lain, ada hati nurani yang memuat potensi diri untuk bisa bangkit, belajar dari kesalahan, dan akhirnya terpenjara oleh keharusan berbuat baik.

Pada 27 Desember 2014, 33 tahun setelah penembakan itu, Mehmet mengunjungi almarhum Paus di makamnya. 

Ia meletakkan mawar-mawar putih di makam sosok yang telah ditembaknya dan terlihat merenung sejenak.

Kita yakin bahwa ada relasi komunikasi kasih yang saling mengetuk hati, setelah peristiwa penembakan. 

Dengan memaafkan, kita membuka pintu ketertutupan, dan membiarkan diri dikuasai komunikasi saling pengertian dan kedamaian.

Di tengah ujian bagi keragaman Indonesia, ada baiknya kita belajar dari sikap inspiratif Paus Yohanes Paulus II. Kita dibentuk sebagai saudara dalam kebangsaan, sehingga dapat saling memaafkan.

Tentang Mehmet

Mehmet besar dalam kehidupan yang keras, mempertangguh diri dengan senjata api dan pergi ke Suriah. 

Di sana, dia mendapat latihan persenjataan dan taktik teror selama dua bulan. Saat pulang ke Turki, dia menjadi bagian organisasi sayap kanan bernama Serigala Abu-abu.

Organisasi itu berusaha menggoyang pemerintah Turki. Atas komando dari Serigala Abu-abu, Mehmet membunuh seorang editor surat kabar sayap kiri, Abdi Ipekci, di Istanbul di tahun 1979.

Usia Mehmet baru 21 tahun kala itu.Setelah memasuki Roma melalui Milan pada 10 Mei 1981, Mehmet dan kawan-kawannya merancang sebuah kekacauan. Mehmet sempat berpikir Paus Yohanes Paulus II adalah lambang kapitalisme.

Bagi Mehmet, seperti ditulis oleh Anton Wasels dalam Arab dan Kristen (2004), Paus juga tak lebih dari seorang komandan perang bertopeng yang terlibat dalam Perang Salib.

Share:
Komentar

Berita Terkini