8 Biarawati Katolik di China Dipaksa Keluar dari Biara dan Dilecehkan

Editor: iKatolik.net author photo

8 Biarawati Katolik di China Dipaksa Keluar dari Biara dan Dilecehkan
Credit: Gang Liu/Shutterstock

ikatolik.net
- Delapan orang biarawati Katolik dilaporkan telah dipaksa meninggalkan biara mereka di Provinsi Shanxi Utara oleh pemerintah China dan keberadaan mereka sejauh ini belum diketahui.

Menurut laporan salah satu biarawati sebagaimana dilansir dari Bitter Winter, sebuah majalah Italia yang berfokus pada HAM dan kebebasan beragama di China, mereka dianggap orang berbahaya.

“Para pejabat pemerintah menyatakan kami sebagai 'orang berbahaya' dan berulang kali melecehkan kami,” kata salah satu biarawati.

Baca Juga: Paus Fransiskus Kembali Mendoakan Korban Teror yang Tidak Berdaya

“Mereka meminta kami untuk menuliskan apa yang telah kami lakukan sejak taman kanak-kanak dan menuntut untuk mengungkapkan semua yang kami lakukan selama beberapa bulan terakhir. Mereka bahkan ingin kami mengingat pelat nomor kendaraan yang kami gunakan selama perjalanan" lanjutnya.

Para biarawati itu terus-menerus diawasi oleh Partai Komunis China karena mereka dulu tinggal di luar negeri dan menolak untuk bergabung dengan Asosiasi Katolik Patriotik China (AKPC).

AKPC sendiri menurut laporan majalah Bitter Winter merupakan sebuah gereja negara yang dikelola Partai Komunis China yang sedang berkuasa.

Diintai dan Dilecehkan 

Masih menurut majalah Bitter Winter, pemerintah setempat bahkan memasang empat kamera pengintai di biara untuk memantau para biarawati dan pengunjung mereka.

Selain itu, ada setidaknya tiga orang yang terdiri dari seorang petugas polisi dan dua pejabat lokal, ditugaskan untuk menjaga para biarawati.

“Mereka sering masuk ke dalam biara untuk menanyakan kegiatan kami, kadang pada malam hari. Pemerintah bahkan mempekerjakan beberapa preman untuk mengganggu kami". 

"Mereka juga masuk ke dapur saat kami memasak untuk mengacau atau bertindak mesum, dan memaksa kami untuk makan malam di luar bersama mereka” ungkap sang biarawati.

Dipaksa Menghapus Simbol Keagamaan

Para biarawati juga dipaksa untuk menghapus simbol-simbol keagamaan, seperti salib dan patung orang suci dari dalam biara. Jika tidak diindahkan maka biara mereka diancam akan dibongkar.

“Salib adalah simbol keselamatan. Menghapusnya rasanya seperti memotong daging kita sendiri,” kata biarawati itu.

Selama beberapa bulan terakhir, otoritas Shanxi telah menekan orang-orang untuk mengganti simbol agama di rumah mereka dengan gambar Ketua Mao dan Presiden Xi Jinping. 

Jika aturan tersebut tidak dipatuhi maka pemerintah akan mencabut bantuan keuangan bagi mereka yang terkena COVID-19.

Ancaman Soal Dana Bantuan

Seperti kebanyakan negara di dunia, ekonomi Tiongkok telah terpukul parah oleh pandemi, yang berarti bahwa sebagian besar warganya terpaksa bergantung pada pembayaran pemerintah. 

Rumah tangga religius yang miskin tidak dapat menerima uang dari negara secara cuma-cuma - mereka harus mematuhi Partai Komunis dengan aturan yang mereka sudah dibuat.

Tahun lalu, Partai Komunis China menurunkan pajangan 10 Perintah Allah di gereja-gereja di beberapa negara bagian, dan menggantinya dengan teks yang diubah untuk lebih mencerminkan prinsip-prinsip Komunis. 

Pejabat Partai Komunis juga mengumumkan bahwa mereka sedang mengerjakan versi Alkitab yang disetujui Komunis. (CNA)

Share:
Komentar

Berita Terkini