5 Alasan Mengapa Anda Dilarang Pulang Sebelum Misa Selesai

Editor: iKatolik.net author photo

5 Alasan Mengapa Anda Dilarang Pulang Sebelum Misa Selesai
Foto: Sathora

ikatolik.net
- Bagi kita umat Katolik, Misa atau Perayaan Ekaristi merupakan puncak hidup umat Kristiani. Saat Misa, kita mengenang peristiwa hidup, penderitaan dan wafatnya Tuhan kita Yesus Kristus.

Lebih daripada kenangan, kita datang mengikuti Ekaristi karena pengalaman terdalam iman kita dimana ada tarikan tersendiri untuk bertemu dengan Tuhan entah untuk berdoa maupun bersatu dengan sesama saudara-saudari seiman.

Sebegitu pentingnya misa sehingga ketika kita tidak merayakannya terasa ada sesuatu yang ‘kurang’ dalam hidup kita. 

Walaupun demikian, tidak sedikit dari umat beriman Katolik belum menyadari pentingnya perayaan Ekaristi dalam hidupnya.

Ada yang mungkin pergi ke misa hanya sekedar rutinitas belaka, ataupun hanya mau bertemu teman-temannya. Lebih lagi, masih banyak umat juga yang mengikuti misa terkesan tergesa-gesa.

Bahkan ketika misa belum selesai pun, ada umat yang sudah pulang terlebih dahulu. Apakah umat seperti itu sebegitu sibuknya sehingga mengabaikan makna terdalam dalam hidupnya?

Oleh karena itu, sungguh penting bagi kita untuk menghadiri secara “complete” dari awal hingga akhir misa. Berikut ini 5 Alasan untuk Tetap Sabar hingga selesai Misa;

1. Komuni pada intinya mengenai Komunio atau persekutuan:

Ketika kita menerima komuni, kita menerima Yesus sendiri. Ketika kita mengunjungi seorang teman dan saat dia bisa duduk dan hadir untuk kita, kita melompat dan bahkan berlari sambil berteriak, “Senang sekali menghabiskan waktu bersamamu, sampai jumpa minggu depan!”

Komuni adalah tentang berkomunikasi dengan Tuhan dan Juru Selamat kita. Untuk berkomunikasi, kita harus benar-benar menikmati waktu istimewa ini bersamanya dan meluangkan waktu untuk bersama Tuhan kita.

2. Periksa kembali Motivasi kita untuk Misa:

Setiap kali kita hendak mengikuti perayaan ekaristi, kita maunya tepat waktu, bukan? Mungkin saja alasan kita tepat waktu adalah untuk menghindari rasa malu kalau telat.

oleh sebaib itu, kita tepat waktu bukan untuk menghindari rasa malu, tetapi karena kita hendak bertemu Yesus. Mengapa kita sering lebih peduli dengan reaksi orang lain daripada kita dengan Yesus?

Kita pikir, kita harus buru-buru karena banyak yang harus dilakukan! Tetapi mengapa mudah bagi kita untuk pergi lebih awal dan datang terlambat ketika Pencipta Alam Semesta yang berharap bertemu kita?

3. Misa Bukan Suatu Aktivitas dalam Daftar yang Harus Dilakukan:

Sering kali ketika saya melihat orang-rang tergesa-gesa setelah Misa, sepertinya mereka sedang mengecek suatu aktivitas pada daftar yang harus dilakukan dan ingin menyelesaikannya. Kehidupan Kristiani bukanlah daftar yang harus dilakukan.

Namun Misa adalah undangan untuk berelasi dengan Allah. Jika kita pergi ke Misa karena rasa tanggung jawab, tentu kita mungkin menghindari dosa berat, tetapi nyaris tidak berhasil dalam menghindari dosa berat bukanlah panggilan hidup rohani kita.

Kita dipanggil untuk lebih dari itu. Kita dipanggil untuk hubungan, kekudusan, transformasi.

4. Berkat Penutup sangat Penting:

Pada Hari raya Penebusan, Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis, mendapat kehormatan untuk pergi ke tempat maha kudus pada hari malaikat mengatakan kepadanya bahwa dia dan istrinya akan memiliki anak. 

Orang-orang dengan penuh semangat menunggu di luar agar dia memberi mereka berkat setelah dia mempersembahkan dupa.

Ketika Zakharia keluar dalam keadaan bisu karena dia tidak percaya dengan pesan malaikat itu, kurangnya suatu berkat memperbesar ketidakjujuran dan tragedi kehilangan suaranya. Sekiranya orang-orang pulang dengan sangat kecewa.

Berkat sangat berharga. Ketika seorang imam, yang oleh penahbisannya diatur untuk Kristus, memberikan berkat terakhirnya, kita diberkati oleh Allah sendiri.

Jika Yesus berdiri siap untuk memberi kita berkat sebelum kita meninggalkan Misa dan kembali ke dunia kesibukan kita masing-masing, tidakkah kita sabar menunggu?

5. Kita Mendapatkan LEBIH BANYAK Rahmat:

Menurut Katekismus, “buah-buah sakramen… bergantung pada disposisi orang yang menerimanya” (CCC 1128). Setiap sakramen mengandung rahmat dari dirinya sendiri dan menebarkan rahmat bagi si penerima sakramen itu.

Namun, seberapa besar dari rahmat itu meresap ke dalam jiwa kita dan berperan dalam kehidupan kita tergantung pada disposisi batin kita.

Jika kita bergegas keluar dari gereja setelah persekutuan, kemungkinan disposisi kita tidak sedemikian sehingga kita secara sadar menyadari fakta menakjubkan bahwa kita mengkonsumsi tubuh, darah, jiwa dan keilahian Tuhan sendiri.

Ini hal yang berat. Oleh karena itu kita sangat membutuhkan disposisi batin atau kesiapan batin yang tepat jika kita hendak menerima rahmat sakramen Ekaristi secara utuh.

Dengan demikian, sangatlah diperlukan bagi kita sekalian untuk menghadiri perayaan ekaristi tepat waktu sekaligus tidak pulang tergesah-gesah. Kiranya tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Sumber: aleteia

Share:
Komentar

Berita Terkini