-->

7 Hal Penting yang Perlu Kita Teladani dari Bunda Maria

Editor: iKatolik.net author photo

7 Hal Penting yang Perlu Kita Teladani dari Bunda Maria

ikatolik.net
- Pernahkah Anda kewalahan akibat tantangan dan tanggung jawab yang tiba-tiba muncul? Apakah Anda keletihan akibat perjuangan setiap hari untuk mencari sesuap nasi?

Mungkin Anda termasuk di antara jutaan orang yang dilanda kebingungan dan ketakutan karena harus mengungsi ke negeri lain.

Dan, siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami kepedihan yang dalam serta kehampaan setelah ditinggal mati oleh orang yang kita kasihi?

Tahukah Anda bahwa Maria, ibu Yesus, mengalami semua tantangan itu? Yang lebih hebat lagi, ia mengatasinya dengan sukses! Apa yang dapat kita pelajari dari teladannya?

Maria pastilah dikenal di seluruh dunia. Dan, hal ini tidak mengherankan karena ia memainkan peran yang unik dalam pelaksanaan maksud-tujuan Allah. Selain itu, Maria dipuja-puja oleh jutaan orang.

Gereja Katolik menjunjungnya sebagai Bunda yang dikasihi dan sebagai teladan iman, harapan, dan kemurahan hati. Banyak orang diajar bahwa Maria menuntun manusia kepada Allah.

Bagaimana Anda memandang ibu Yesus ini? Dan, yang lebih penting lagi, bagaimana Allah memandangnya?

Suatu Tugas yang Unik

Maria, putri Heli, berasal dari suku Yehuda di Israel. Ia pertama kali disebutkan dalam Alkitab sehubungan dengan suatu peristiwa yang luar biasa.

Seorang malaikat mengunjungi dia dan mengatakan, ”Salam, hai, engkau yang sangat diperkenan, Yehuwa menyertai engkau.”

Awalnya, Maria merasa gundah dan ”mulai memikirkan apa maksud salam itu”.

Maka, malaikat itu memberi tahu bahwa dia telah dipilih untuk tugas yang luar biasa namun juga sangat serius, yakni mengandung, melahirkan, dan membesarkan Putra Allah.​—Lukas 1:26-33.

Betapa pentingnya tugas yang dipercayakan kepada wanita muda yang belum menikah ini! Bagaimana tanggapannya? Maria bisa jadi bertanya-tanya apakah ada yang akan percaya pada ceritanya.

Tidakkah kehamilan seperti itu akan menyebabkan dia kehilangan cinta kasih Yusuf, tunangannya, atau mencoreng mukanya di mata masyarakat? (Ulangan 22:20-24) Ia tidak ragu-ragu menerima tugas yang berat ini.

Iman Maria yang kuat membuatnya sanggup untuk tunduk kepada kehendak Allahnya, Yehuwa. Dia yakin bahwa Allah akan memeliharanya.

Maka, dia pun berseru, ”Lihat! Budak perempuan Yehuwa! Semoga itu terjadi atasku sesuai dengan pernyataanmu.”

Maria rela menghadapi tantangan karena ia menghargai hak istimewa rohani yang ditawarkan kepadanya.​—Lukas 1:38.

Sewaktu Maria memberi tahu Yusuf bahwa ia hamil, Yusuf berniat memutuskan pertunangan mereka. Pada waktu itu, keduanya pastilah merasa sangat tertekan.

Alkitab tidak mengatakan berapa lama keadaan yang sulit itu berlangsung. Namun, baik Maria maupun Yusuf tentu merasa teramat lega sewaktu malaikat Yehuwa muncul kepada Yusuf.

Utusan Allah itu menjelaskan kehamilan Maria yang tidak lazim, dan menyuruh Yusuf membawa Maria pulang ke rumahnya sebagai istrinya.​—Matius 1:19-24.

Masa-Masa yang Sulit

Dewasa ini, banyak calon ibu membuat persiapan selama berbulan-bulan untuk menyongsong bayi mereka, dan Maria mungkin melakukan hal yang sama.

Bayi ini akan menjadi anaknya yang pertama. Akan tetapi, peristiwa yang tak diduga memperumit rencananya. Kaisar Agustus mengeluarkan dekret untuk melakukan sensus, yang mewajibkan seluruh rakyat mendaftar di kota kelahiran mereka.

Jadi, Yusuf membawa Maria, yang sedang hamil sembilan bulan, untuk melakukan perjalanan sejauh kira-kira 150 kilometer, kemungkinan besar dengan menunggang keledai!

Saat itu, Betlehem sangat padat dan Maria membutuhkan tempat untuk bersalin, namun satu-satunya tempat yang tersedia hanyalah sebuah kandang.

Bersalin di sebuah kandang tentunya sangat sulit bagi Maria. Ia kemungkinan besar merasa malu dan juga takut.

Pada saat-saat kritis dalam kehidupannya ini, Maria pasti mencurahkan hatinya kepada Yehuwa, percaya bahwa Allah akan memelihara dia dan bayinya.

Belakangan beberapa gembala tiba, sangat antusias melihat bayi tersebut. Mereka melaporkan bahwa para malaikat menyebut anak ini ”seorang Juru Selamat, yang adalah Kristus Tuan”.

Kemudian kita membaca, ”Maria mulai menyimpan semua perkataan ini, menarik kesimpulan dalam hatinya.” Ia merenungkan kata-kata ini dan mendapatkan kekuatan.​—Lukas 2:11, 16-19.

Bagaimana dengan kita? Kita juga mungkin mengalami kepedihan dalam kehidupan kita. Lagi pula, Alkitab menunjukkan bahwa ”waktu dan kejadian yang tidak terduga” dapat menimpa siapa pun di antara kita, menimbulkan berbagai kesulitan serta tantangan dalam perjalanan hidup kita. (Pengkhotbah 9:11)

Jika hal itu terjadi, apakah kita menjadi getir dan menyalahkan Allah? Tidakkah lebih baik untuk meniru sikap Maria dan mendekat kepada Allah Yehuwa dengan belajar dari Firman-Nya,

Alkitab, dan kemudian merenungkan apa yang telah kita pelajari? Dengan demikian, kita akan dibantu untuk menanggung berbagai cobaan.

Hidup Miskin dan Menjadi Pengungsi

Maria juga mengalami berbagai kesulitan lain​—termasuk hidup miskin dan terpaksa melarikan diri dari negeri asalnya.

Pernahkah Anda mengalami keadaan sulit demikian? Menurut sebuah laporan, ”setengah penduduk dunia​—hampir tiga miliar orang​—hidup dengan kurang dari dua dolar AS per hari”,

dan jutaan orang lainnya berjuang mencari sesuap nasi sekalipun mereka tinggal di negara-negara yang katanya makmur.

Bagaimana dengan Anda? Apakah perjuangan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan makanan, pakaian, dan penaungan membuat Anda kelelahan, dan kadang-kadang bahkan kewalahan?

Alkitab menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria relatif miskin. Bagaimana kita bisa tahu? Dalam kitab-kitab Injil​—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes​—salah satu fakta yang disingkapkan tentang pasangan ini adalah bahwa 40 hari setelah Maria bersalin.

Ia dan Yusuf pergi ke bait untuk mempersembahkan korban yang diwajibkan​—”sepasang burung tekukur atau dua ekor burung dara muda”. (Lukas 2:22-24) Korban ini hanya diperbolehkan bagi orang-orang yang terlalu miskin untuk mempersembahkan domba jantan muda.

Maka, Yusuf dan Maria agaknya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Sekalipun demikian, patut dikagumi bahwa mereka berhasil menciptakan kehidupan keluarga yang hangat.

Pastilah, hal-hal rohani menjadi prioritas utama mereka.​—Ulangan 6:6, 7.

Tidak lama setelah kelahiran Yesus, kehidupan Maria sekali lagi terguncang karena adanya perubahan besar. Seorang malaikat menyuruh Yusuf membawa keluarganya dan lari ke Mesir. (Matius 2:13-15)

Ini adalah kali yang kedua Maria harus meninggalkan lingkungan yang akrab dengannya, tetapi kali ini, ia harus pergi ke negeri asing. Di Mesir, ada komunitas Yahudi yang besar, jadi Maria dan Yusuf dapat hidup di antara bangsanya sendiri.

Sekalipun demikian, tinggal di negeri asing bisa jadi sulit dan membingungkan. Apakah Anda dan keluarga termasuk di antara jutaan orang yang telah meninggalkan negeri asal, mungkin demi kesejahteraan anak-anak atau untuk lari dari bahaya?

Jika demikian, Anda akan mengerti betul tentang beberapa kesulitan yang mungkin Maria alami di Mesir.

Istri dan Ibu yang Berbakti

Selain catatan tentang kelahiran dan masa kecil Yesus, Maria tidak banyak disebutkan dalam Injil. Namun, kita tahu bahwa Maria dan Yusuf setidak-tidaknya memiliki enam anak lain. Ini mungkin mengejutkan bagi Anda. Akan tetapi, perhatikanlah apa yang dikatakan Injil.

Yusuf memiliki respek yang dalam terhadap hak istimewa Maria sebagai wanita yang melahirkan Putra Allah. Maka, ia tidak melakukan hubungan seksual dengannya sebelum Yesus lahir.

Matius 1:25 menyatakan bahwa Yusuf ”tidak melakukan hubungan dengannya sampai dia melahirkan seorang anak laki-laki”.

Kata ”sampai” di ayat ini menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria melakukan hubungan seksual sebagaimana layaknya suami dan istri.

Maka, catatan Injil mengatakan bahwa Maria dengan Yusuf memiliki anak-anak, putra dan putri. Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas adalah saudara-saudara tiri Yesus.

Maria sekurang-kurangnya memiliki dua orang putri. (Matius 13:55, 56) Namun, anak-anak ini dikandung dengan cara yang lazim.*

Maria adalah orang yang berpikiran rohani. Sekalipun Hukum tidak mewajibkan kaum wanita menghadiri perayaan Paskah, Maria biasa menemani Yusuf dalam perjalanan tahunan ke Yerusalem untuk perayaan itu.

(Lukas 2:41) Ini berarti bahwa setiap tahun mereka melakukan perjalanan pulang-pergi hampir sejauh 300 kilometer​—membawa keluarga yang semakin besar! Tetapi, perjalanan ini tentunya sangat menyukacitakan seluruh keluarga.

Banyak wanita dewasa ini meniru teladan Maria. Mereka bekerja keras dan tanpa mementingkan diri memenuhi kewajiban ibadat mereka.

Betapa sering istri-istri yang penuh pengabdian ini tak putus-putusnya menunjukkan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati! Sewaktu merenungkan sikap Maria, mereka dibantu untuk terus mendahulukan hal-hal rohani di atas kenyamanan dan kesenangan pribadi mereka.

Mereka tahu, seperti halnya Maria, bahwa ibadat kepada Allah bersama suami dan anak-anak mereka akan menguatkan dan mempersatukan keluarga.

Suatu waktu ketika Maria dan Yusuf sedang berjalan pulang dari perayaan di Yerusalem​—mungkin dengan beberapa anak​—mereka menyadari bahwa Yesus yang berusia 12 tahun tidak ada bersama mereka.

Dapatkah Anda membayangkan betapa gundahnya Maria ketika ia kalang kabut mencari putranya selama tiga hari?

Sewaktu akhirnya ia dan Yusuf menemukannya di bait, Yesus mengatakan, ”Tidakkah kamu tahu bahwa aku harus berada di rumah Bapakku?”

Sekali lagi, catatan Injil mengatakan bahwa Maria ”menyimpan dengan cermat semua perkataan ini dalam hatinya”.

Ini merupakan bukti lain tentang penghargaan Maria yang dalam akan hal-hal rohani. Ia dengan cermat merenungkan semua hal yang terjadi sehubungan dengan Yesus.

Bertahun-tahun kemudian, ia mungkin menceritakan kepada para penulis Injil tentang hal-hal yang diingatnya dengan jelas mengenai peristiwa ini dan berbagai peristiwa lainnya sehubungan dengan kehidupan awal Yesus.​—Lukas 2:41-52.

Bertekun Menghadapi Kesengsaraan dan Kehilangan

Apa yang terjadi dengan Yusuf, ayah angkat Yesus? Setelah muncul sebentar dalam uraian peristiwa semasa Yesus masih muda, Yusuf tidak pernah muncul lagi dalam catatan Injil.

Beberapa orang menganggap hal ini sebagai petunjuk bahwa Yusuf meninggal beberapa waktu sebelum pelayanan Yesus mulai.

Apa pun yang terjadi, Maria kelihatannya telah menjadi janda pada akhir pelayanan Yesus. Pada saat kematiannya, Yesus mempercayakan ibunya kepada rasul Yohanes. (Yohanes 19:26, 27) Yesus tidak akan melakukan hal ini jika Yusuf masih hidup.

Maria dan Yusuf telah mengalami banyak hal bersama! Beberapa kali mereka dikunjungi malaikat, meluputkan diri dari seorang raja yang lalim, beberapa kali pindah, dan mengurus sebuah keluarga besar.

Seberapa seringkah mereka duduk bersama dan berbicara tentang Yesus, bertanya-tanya apa yang harus dihadapinya di masa mendatang,

khawatir apakah selama ini mereka telah melatih dan mempersiapkan dia dengan cara yang benar? Dan tiba-tiba, Maria sendirian, tanpa pendamping.

Pernahkah Anda ditinggal mati oleh teman hidup? Apakah Anda masih merasa pedih dan hampa akibat kehilangan seperti itu, bahkan bertahun-tahun setelahnya?

Tidak diragukan, Maria memperoleh penghiburan dari imannya dan pengetahuan tentang adanya kebangkitan. (Yohanes 5:28, 29)

Namun, penghiburan tersebut tidak mengakhiri masalah Maria. Seperti banyak ibu tunggal dewasa ini, ia mengalami banyak kesulitan dalam mengurus anak-anaknya tanpa bantuan seorang suami.

Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus mencari nafkah bagi keluarganya setelah Yusuf meninggal. Seraya saudara-saudara lelaki Yesus beranjak dewasa, mereka akan dapat turut memikul berbagai tanggung jawab keluarga.

Pada waktu Yesus ”berumur kira-kira tiga puluh tahun”, ia meninggalkan rumah dan memulai pelayanannya. (Lukas 3:23) Kebanyakan orang tua merasa sedih sekaligus bangga sewaktu putra atau putri mereka yang sudah dewasa meninggalkan rumah.

Banyak sekali waktu, upaya, dan emosi yang terlibat sewaktu mengasuh dan membesarkan anak sehingga orang tua merasakan kehampaan yang dalam ketika anak-anak meninggalkan rumah.

Apakah putra-putri Anda sudah meninggalkan rumah untuk mengejar tujuan hidup mereka? Apakah Anda merasa bangga namun kadang-kadang juga menginginkan mereka berada dekat? Nah, Anda dapat membayangkan bagaimana perasaan Maria sewaktu Yesus meninggalkan rumah.

Cobaan-Cobaan yang Tak Terduga

Maria menghadapi cobaan lain yang tidak pernah ia duga. Seraya Yesus mengabar, banyak orang mengikuti dia​—tetapi saudara-saudaranya sendiri tidak.

”Sebenarnya, saudara-saudara lelakinya tidak memperlihatkan iman akan dia,” kata Alkitab. (Yohanes 7:5) Kemungkinan besar, Maria memberi tahu mereka apa yang dikatakan malaikat kepadanya​—bahwa Yesus adalah ”Putra Allah”. (Lukas 1:35)

Namun, bagi Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas, Yesus hanyalah kakak mereka yang tertua. Jadi, Maria tinggal dalam keluarga yang anggota–anggotanya memiliki pandangan agama yang berbeda.

Apakah Maria menjadi kecil hati dan menyerah menghadapi situasi ini. Sama sekali tidak! Sekali peristiwa sewaktu Yesus sedang mengabar di Galilea, ia pergi ke sebuah rumah untuk makan, dan ada sekumpulan orang yang ingin mendengarkan dia.

Siapa yang berada di luar untuk mencari dia? Maria dan saudara-saudara lelaki Yesus. Jadi, sewaktu Yesus berada di dekat keluarganya,

Maria mengikutinya dan tampaknya ia membawa serta anak-anaknya yang lain, mungkin dengan harapan bahwa mereka akan berubah sikap terhadap Yesus.​—Matius 12:46, 47.

Anda juga mungkin mengalami kesulitan karena berupaya keras mengikuti Yesus sedangkan yang lainnya dalam keluarga Anda tidak mau berbuat demikian.

Jangan kecil hati, dan jangan menyerah! Banyak orang, seperti Maria, telah dengan sabar memberikan anjuran kepada anggota keluarganya selama bertahun-tahun sebelum melihat perubahan yang nyata. Ketekunan seperti itu berharga di mata Allah, tidak soal orang lain memberikan tanggapan atau tidak.​—1 Petrus 3:1, 2.

Cobaan yang Terberat

Cobaan terakhir Maria, sebagaimana ditulis dalam Alkitab, adalah yang paling meremukkan hati. Ia menyaksikan putra yang dikasihinya mati dalam penderitaan yang hebat setelah ia ditolak oleh bangsanya.

Kematian anak digambarkan sebagai ”kehilangan terbesar”, ”kematian yang paling menghancurkan hati”, tidak soal anak itu masih muda atau sudah dewasa.

Sebagaimana dinubuatkan puluhan tahun sebelumnya, Maria merasa seolah-olah sebilah pedang menembus jiwanya!​—Lukas 2:34, 35.

Apakah Maria membiarkan ujian terakhir ini menghancurkan dia secara emosi dan melemahkan imannya kepada Yehuwa? Tidak. Kali berikutnya Maria disebutkan dalam catatan Alkitab, ia bersama murid-murid Yesus ”berkanjang dalam doa”. Dan, ia tidak sendirian.

Putra-putranya yang lain, yang pada saat itu sudah mulai beriman akan kakak sulung mereka, ada bersamanya. Pastilah hal ini menghibur Maria!*​—Kisah 1:14.

Maria memiliki kehidupan yang penuh makna dan memuaskan sebagai wanita, istri, dan ibu yang setia. Ia memiliki banyak pengalaman yang kaya secara rohani. Ia mengatasi banyak ujian dan cobaan.

Sewaktu menghadapi tantangan yang tak terduga atau merasa cemas karena problem keluarga, kita tentu dapat belajar dari teladan ketekunan dan kesetiaannya melayani Allah.​—Ibrani 10:36. *

Share:
Komentar

Berita Terkini